Jumat, 01 Juni 2012

Tugas 3 Softskill

Tugas Akuntansi Internasional (Softskill)
Nama : Yanti
Kelas : 4EB13
NPM : 21208302
Tugas 3.  

Neraca perdagangan Indonesia terhadap Perusahaan Asing 


• Perdagangan Indonesia-China 

Sejak disepakatinya perdagangan bebas ASEAN-China (ACFTA) dimulai tanggal 1 Januari 2010, produk jadi dari China membanjiri pasar domestik. Kawasan perdagangan baru mulai bermunculan dan kawasan perdagangan lama juga ikut ramai. Organisasi Perdagangan Dunia mengatakan, setidaknya sekitar 400 kawasan perdagangan beroperasi pada tahun 2010. Hal ini menjadikan langkah awal menuju perdagangan global liberalisasi yang luas. Selain itu, China yang memiliki penduduk sekitar 1,4 miliar jiwa dan daerah yang sangat luas menjadi daya tarik tersendiri bagi kalangan industri dan perdagangan. China seolah menjadi harapan besar untuk mendongkrak omzet perdagangan industri. Setelah satu tahun disepakatinya perdagangan bebas ACFTA ini, neraca perdagangan Indonesia-China menunjukkan nilai surplus bagi China. Namun begitu, Indonesia masih mempunyai peluang untuk surplus asalkan ada upaya-upaya nyata dari pemerintah untuk mendongkrak ekspor barang jadi ke China. Duta Besar Republik Indonesia untuk China Imron Cotan mengatakan, walaupun Indonesia mengalami defisit, tapi peluang untuk surplus masih ada, mengingat pasar di China sangat besar. ”Selama ini ekspor yang kita lakukan ke China masih berupa energi dan minyak serta bahan baku. Belum banyak produk yang kita bisa ekspor ke China, terutama hasil perkebunan dan buah-buahan, karena mereka miskin akan sumber daya alam,” kata Imron di Beijing. Hingga akhir 2010, tercatat neraca perdagangan Indonesia-China berada dalam posisi 49,2 miliar dollar AS dan 52 miliar dollar AS. Artinya, barang Indonesia yang diekspor ke China nilainya 49,2 miliar dollar AS, sedangkan barang China yang diekspor ke Indonesia nilainya 52 miliar dollar AS. Neraca perdagangan Indonesia defisit sekitar 2,8 miliar dollar AS. Namun, Imron menambahkan, neraca ini berdasarkan catatan China. Sedangkan menurut catatan Indonesia, defisit yang dialami Indonesia sebenarnya sekitar 5 miliar-7 miliar dollar AS. ”Perhitungan di Indonesia hanya mencatat FOB, harga barang saja. Sedangkan China juga menghitung ongkos kirim dan asuransi. Tidak ada yang salah dengan perhitungan ini karena kita hanya menjual barang tanpa mau mengurus ongkos kirim hingga barang selamat sampai di tempat. China mendapatkan keuntungan lebih dari ongkos kirim ini,” papar Imron. Imron menjelaskan, ketika ACFTA ini belum dijalankan, posisi neraca perdagangan Indonesia-China adalah surplus untuk Indonesia. Namun, nilai transaksinya masih sangat kecil. Pada 2009, impor China dari Indonesia sebesar 17,1 miliar dollar AS, sedangkan impor Indonesia dari China sebesar 13 miliar dollar AS. Jika dilihat dari nilai, setelah ACFTA nilai transaksi justru melambung secara signifikan. Walaupun secara keseluruhan neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit, tetapi di empat provinsi yang menjadi pusat perdagangan, neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus. Keempat provinsi itu adalah Guangdong, Fujian, Guangxi, dan Hainan. Konsul Jenderal Republik Indonesia untuk China Edi Yusuf mengatakan, nilai neraca perdagangan Indonesia dengan keempat provinsi China itu pada 2010 mengalami peningkatan yang cukup tajam. Jika pada tahun 2009 nilai ekspor China (empat provinsi) ke Indonesia mencapai 3,36 miliar dollar AS, pada tahun 2010 meningkat menjadi 6,13 miliar dollar AS. Sementara untuk nilai impor China dari Indonesia pada tahun 2009 mencapai 4,3 miliar dollar AS, dan pada tahun 2010 mencapai 6,86 miliar dollar AS. Barang-barang yang diimpor dari China sebagian besar berupa perkakas listrik, mesin, produk besi baja, tekstil, keramik, plastik, makanan olahan, garmen, kerajinan tangan, pupuk, aluminium, produk makanan dan minuman, serta produk laut. Sedangkan produk yang ekspor dari Indonesia ke China adalah minyak bumi, mesin listrik, minyak makan, kertas, kayu, karet, bijih besi, dan tin. Duta Besar Imron mengatakan, potensi Indonesia masih besar karena banyak produk Indonesia yang masuk ke China lewat negara lain, misalnya manggis. ”Produk terbesar manggis ada di Indonesia. Tetapi, mengapa China mengimpor manggis dari negara lain. Itu manggis Indonesia,” kata Imron. Potensi lain yang menjanjikan adalah kopi. Saat ini kopi baru dikenal di China. Sebelumnya mereka tidak mengenal kopi. Tetapi karena di China banyak orang asing, dan banyak orang China yang pernah tinggal dan sekolah di luar negeri, maka budaya minum kopi makin lama makin dikenal di China. Kebutuhan akan kopi pun mulai meningkat. Apalagi kini mulai banyak ditemui kedai-kedai kopi dengan sasaran remaja dan profesional muda.


 • Defisit Perdagangan Non-Migas dengan Jepang 

Defisit neraca perdagangan non-minyak dan gas (migas) Indonesia-Jepang diperkirakan akan terus berlanjut selama masih terjadi krisis global dan ekonomi Jepang belum pulih pascagempa bumi dan tsunami Maret 2011. Satwiko Darmesto, Direktur Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik, mengatakan surplus neraca perdagangan Indonesia-Jepang lebih disebabkan peningkatan ekspor migas akibat rusaknya reaktor nuklir di negara itu. Penurunan kinerja ekspor Jepang berdampak pada pengurangan nilai perdagangan Indonesia-Jepang. Jepang diperkirakan membutuhkan waktu 1,5 tahun agar kinerja perdagangannya kembali normal. “Saat ini Jepang lebih banyak mengimpor sumberdaya alam dari Indonesia terutama gas karena reaktor nuklirnya rusak,” kata Satwiko. Kinerja perdagangan non-migas Indonesia-Jepang sebelum krisis ekonomi 2008 masih cukup baik. Indonesia hanya membutuhkan waktu 1,5 tahun untuk memperbaiki kinerja perdagangan setelah menurun pada 2008, sehingga pada Desember 2009 neraca perdagangan non-migas dengan Jepang kembali normal. "Ekspor Indonesia ke Jepang seharusnya sudah membaik, namun karena perdagangan global secara keseluruhan turun maka ekspor Indonesia juga berkurang,” tuturnya. Data Kementerian Perdagangan menunjukkan pada 2007 neraca perdagangan non-migas Indonesia-Jepang surplus US$ 6,62 miliar, tetapi pada 2008 defisit US$ 1,07 miliar. Pada 2009, neraca perdagangan non-migas Indonesia-Jepang kembali surplus US$ 2,17 miliar. Sejak 2010, neraca perdagangan non-migas Indonesia-Jepang masih defisit. Sepanjang Januari-November 2010, defisit non-migas Indonesia-Jepang mencapai US$ 0,55 miliar. Sementara pada periode yang sama 2011, defisit non-migas mencapai US$ 0,69 miliar. Impor Indonesia juga meningkat seiring pertumbuhan industri dalam negeri. Selama ini impor dari Jepang lebih banyak berupa bahan penolong dan barang modal yang kemudian diolah kembali untuk diekspor. "Kita mendapat nilai tambah dari impor barang-barang Jepang,” kata Satwiko. Nurul Eti Nurbaiti, Analis PT BNI Tbk (BBNI), mengatakan defisit neraca perdagangan non- migas Indonesia-Jepang akan terus berlanjut hingga beberapa tahun ke depan akibat pergeseran negara tujuan ekspor Indonesia dari Jepang ke China yang penduduknya besar. Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga negara lain. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan ekspor non-migas Indonesia ke China pada November 2011 mencapai US$ 2,31 miliar, Jepang US$ 1,57 miliar, dan Amerika Serikat US$ 1,18 miliar. Kontribusi ketiga negara tersebut mencapai 36,83% terhadap total ekspor non-migas sebesar US$ 13,74 miliar. 

 Selain pergeseran negara tujuan, penurunan ekspor ke Jepang juga dikarenakan kondisi ekonomi negara itu yang stagnan dan bencana alam yang merusak industri. Penurunan ekspor ini juga disebabkan negara yang mengekspor komponen Jepang yaitu Thailand terkena banjir, sehingga semakin mempersulit kinerja perusahaan Jepang. Nurul menambahkan ekspor migas Indonesia ke Jepang akan terus naik karena kedua produk tersebut sangat dibutuhkan untuk pemulihan ekonomi. Impor Indonesia dari Jepang juga terus meningkat karena sebagian besar industri dalam negeri sangat bergantung pada impor barang modal dan penolong. Latif Adam, Peneliti Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, mengatakan penurunan ekspor non-migas Indonesia ke Jepang dalam satu tahun terakhir karena ekonomi negara tersebut belum pulih pascagempa bumi dan tsunami. Hal ini menyebabkan kinerja industri Jepang turun sehingga permintaan terhadap produk Indonesia berkurang signifikan. Namun, dalam proses rekonstruksi, Jepang membutuhkan banyak gas sehingga permintaan material ini akan semakin meningkat. Rekonstruksi Jepang yang semula diperkirakan selesai empat bulan setelah bencana ternyata berjalan lambat karena beberapa masalah seperti suksesi kepemimpinan. Selain gas, isu pengalihan sumber enegi dari nuklir ke batu bara juga berpotensi meningkatkan ekspor Indonesia, sehingga surplus perdagangan berpeluang meningkat. Telisa Aulia Falianty, Ekonom Spesialis Makro Ekonomi EC-Think, memperkirakan tren defisit perdagangan non-migas Indonesia-Jepang yang sudah terjadi dalam beberapa tahun terakhir masih akan terjadi tahun ini sejalan dengan pelemahan perdagangan ekonomi global. Impor Indonesia dari Jepang diprediksi tetap tinggi karena banyak industri dalam negeri yang membutuhkan bahan baku dan bahan penolong. Pertumbuhan impor ini sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan industri dalam negeri. Sementara ekspor migas Indonesia ke diperkirakan akan terus naik karena kebutuhan migas Jepang yang cukup tinggi setelah rusaknya reaktor nuklir.